Orang - orang Yahudi senantiasa mendambakan berakhirnya “diaspora” mereka dengan jalan kembali ke Negeri yang di janjikan, sebagaimana termaktub dalam Kitab Taurat. Alas an yang digunakan adalah alasan histories religius dan kemanusiaan. Tapi pada akhir abad 19 beberapa tokoh Yahudi Eropa mulai melihat Palestina dari sudut pandang politik.
Yang pertama-tama mengemukakan wawasan nasionalisme Yahudi ialah Leon Pinsker, seworang Yahudi Rusia, pada tahun 1882 namun, yang menumbuhkannya menjadi deologi dan gerakan Zionisme ialah Theodor Hels, seorang Yahudi Austria.
Atas prakarsanya, pada tahun 1897 diselenggarakanlah kongres Zionis pertama di Basel Swiss, yang menghasilkan terbentuknya Organisasi Zionisme Dunia. Hamper seluruh utusan yang hadir di kongres itu menyatakan keinginan mereka untuk menjadikan palestina sebuah Negara Yahudi, namun karena pertimbangan-pertimbangan praktis maka dalam resolusi kongres hanya disebutkan tentang “rumah bangsa Yahudi di Palestina”
Tokoh-tokoh Zionis terkemuka lainnya ialah Chaim Weizmann dan Nahum Sakolov. Masing-masing adalah Yahudi Inggris dan Rusia. Sejak tahun 1906 Weizmann telah menjalin hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh pemerintahan Inggris. Melalui hubungan ini dia meyakinkan pemerintahan Inggris, bahwa posisi Inggris tentulah akan semakin kuat di kawaasan itu, bila Palestina berada di bawah dominasi Yahudi.
Pada 2 November 1917 MENLU inggris. Arthur Balfour, mengirimkan sepucuk surat yang kemudian lebih dikenal sebagai Deklarasi Balfour kepada seorang tokoh Zionis terkemuka, memuat dukungan resmi pemerintah Inggris untuk “the establishment in Palestina of a National Home for the jewish People” politik pemerintah Inggris ini kemudian disokong oleh Amerika Serikat, Perancis dan Italia.
Sementara itu, Inggris sebagai anggota Sekutu sedang berperang melawan Negara-negara Poros. Dalam usahanya menghadapi Ottoman Empire (Daulah Usmania) yang berpihak kepada Poros. Inggris merangsang dan membantu Negara-negara arab memberontak kepada Turki. Tapi bangsa Arab yang selama ini berada dibawah dominasi Daulah Usmania tidaklah begitu saja mempercayai Inggris. Mereka baru bersedia memihak kepasa Sekutu bila Inggris menyetujui persyaratan-persyaratan tertentu yang menyangkut kepentingan bangsa-bangsa Arab. Juru bicara bangsa-bangsa arab ialah Syarif Husein dari Hajaz.
Nota pertama atas bangsa-bangsa Arab, tertangagal 14 juli 1915 Husein meminta Inggris, melalui komisaris tingginya di Mesir, Sir Henry McMahon untuk mengakui kemerdakaan bangsa Arab dalam kawasan disebelah utara di batasi oleh garis yang ditarik dari Mersin-Adana sampai tepal batas Persia, sedangkan disebelah timur dibatasi oleh Persia dan teluk Persia, di selatan oleh samudera Indonesia, sedang disebelah barat oleh Laut Merah. Yang tidak termasuk hanya Aden. Ini dijawab oleh Sir Henry McMahon dengan suratnya tertanggal 24 oktober 1915, bahwa dia bisa menyetujui dengan beberapa pengecualian yang semuanya jelas bahwa Palestina tidak tercantum dalam pengecualian tersebut.masih ada beberapa hal yang belum menemukan kesepakatan diantara kedua pihak, namun Husein setuju bahwa itu akan diselesaikan kelak, bila perang telah berakhir. Pada 5 juni 1916 pecahlah revolusi bersenjata bangsa-bangsa Arab melawan Turkia Usmaniah. Perlawanan Arab ini tidak kecil artinya bagi kemenangan sekutu dalam memenangkan perang dunia I.
Sementara itu, pada 16 mei 1916, pemerintah Perancis dan Inggris secara rahasia menandatangani persetujuan Sykes Picot. Dalam perjanjian itu kedua Negara membagi negeri-negeri Arab atas dua bagian, masing-masing ditempatkan dibawah pengaruh Perancis dan Inggris. Sedang untuk palestina akan dilakukan Internasionalisasi.
Posting Komentar