Setelah berakhirnya Perang Dunia II perhatian Amerika Serikat tertuju pada kawasan Timur Tengah meningkat secara cepat bersamaan dengan surutnya kekuatan Inggris sebagai major power tidak saja di Timur Tengah, tetapi juga di tingkat internasional pada umumnya. Minyak, masalah Palestina dan persaingan dengan Soviet adalah masalah-masalah besar yang di hadapi oleh amerika di Timur Tengah. Produksi minyak yang melimpah dari Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain dan Irak makin meyakinkan Amerika tentang arti strategis dari Timur Tengah. Demikian juga penolakan pemerintah Inggris pada Deklarasi Balfour melalui “White Paper” 1939 dan kerusuhan-kerusuhan di Palestina yang terjadi kemudian telah mendorong Amerika untuk menentukan sikapnya yang jelas terhadap masalah Palestina.
a. Strategi
Bahwa Timur Tengah mempunyai arti vital dan strategis bagi Amerika Serikat nampak dari pidato bekas presiden Gerald Ford di San Fransisco pada bulan Oktober 1975
“ American concern for the Middle East is not a matter of choice; it is a matter of vital necessity. It is a strategic part of the world and the source of a significant and growing portion of our energy recources and those of Western Europe and Japan “.
Strategi suatu negara ditentukan sepenuhnya oleh kepentingan nasionalnya. Di Timur Tengah kepentingan nasional Amerika Serikat pada pokoknya berkisar pada hal-hal berikut :
a. Strategi
Bahwa Timur Tengah mempunyai arti vital dan strategis bagi Amerika Serikat nampak dari pidato bekas presiden Gerald Ford di San Fransisco pada bulan Oktober 1975
“ American concern for the Middle East is not a matter of choice; it is a matter of vital necessity. It is a strategic part of the world and the source of a significant and growing portion of our energy recources and those of Western Europe and Japan “.
Strategi suatu negara ditentukan sepenuhnya oleh kepentingan nasionalnya. Di Timur Tengah kepentingan nasional Amerika Serikat pada pokoknya berkisar pada hal-hal berikut :
- mengusahakan agar sumber-sumber alam Timur Tengah tidak jatuh ketangan kekuatan musuh;
- memelihara kemampuan destruksi unsur-unsur regional dari kekuatan-kekuatan strategis Amerika;
- menjamin tersalurnya sumber-sumber alam yang penting bagi industri dan militer Amerika;
- menjamin suplay sumber-sumber alam Timur Tengah bagi sekutu-sekutu Amerika agar mereka tetap kuat secara ekonomis dan militer;
- memelihara kontinuitas mengalir keuntungan invasi dan usaha-usaha komersial Amerika;
- menjaga kredibilitas dengan jalan memenuhi komitmen-komitmen Amerika di Timur Tengah; dan
- meneruskan hak transit dan “ overflight “ bagi pesawat-pesawat udara dan kapal laut Amerika.
Konfrontasi global terhadap Uni Soviet tidak pernah di tinggalkan oleh Amerika Serikat dan dalam hal ini mudah kita pahami. Taktik “flexible response” menekankan berbagai aksi militer yang tidak usah menimbulkan benturan strategis dengan Soviet, namun seperti di pandang oleh Pentagon, akan dapat melemahkan posisi Soviet maupun kekuatan-kekuatan pro-Soviet. Contoh aplikasi taktik diatas sangat jelas kita saksikan di Vietnam Selatan, Laos dan Kamboja sampai awal 1970-an.
Masuknya armada Keenam Amerika Serikat ke laut tengah berkaitan erat dengan usaha Amerika untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah vis-à-vis Uni Soviet. Di antara tujuan Sixth Fleet di laut tengah adalah antara lain : memperkuat sayap selatan NATO; membawa berbagai kapal selam berpeluru kendali nuklir lebih dekat ke Soviet; menjamin terlindunginya kepentingan Amerika di Timur Tengah; dan menjadi sarana tekanan Amerika bagi Negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Menjauhkan pengaruh Soviet di Timur Tengah kemudian menjadi prioritas penting dalam politik Amerika. Atau dengan perumusan lain, kehadiran Soviet diTimur Tengah harus di cegah, setidak-tidaknya di minimalisir. Kehadiran Soviet dalam kaitan ini berarti kehadiran angkatan lautnya di laut tengah dan hubungan politik serta militer yang akrab antara Soviet dengan beberapa Negara Arab.
Sementara itu pada awal 1970-an mulai nampak bahwa akhirnya tercapai suatu perimbangan kekuatan baru yang secara kwalitatif menunjukan paritas antara kedua super power. Dengan adanya ekuilibrium militer dan strategi antara Amerika dan Soviet kedua Negara raksasa sampai pada kesimpulan bahwa semacam koeksistensi damai harus menjdi pola hubungan diantara mereka. Masing-masing Negara pada 1970-an menunjukan kesediaan untuk mengendalikan konflik-konflik mereka, termasuk di Timur Tengah agar konfrontasi nulkir dapat dielakkan.
Beberapa ahli politik Amerika menekankan bahwa konfrontasi terbatas dengan Soviet harus terus di jalankan selama tidak akan melampaui “critical threshold” yang dapat membawa konfrontasi total antara Amerika dan Uni Soviet.
Amerika pada khususnya dan barat pada umumnya menganggap kehadiran angkatan laut Soviet di samudra India sebagai penghalang terhadap usaha-usaha Amerika dalam mengatasi krisis yang terjadi di kawasan samudra India. Dalam kaitan ini krisis India-Pakistan 1971 sering disebut sebagai contoh keterbatasan kemampuan Amerika dalam membantu rezim Yahya Kahn mengatasi separasi Bangladesh dari Pakistan barat serta konfrontasi militer India-Pakistan.
b. Minyak
Timur Tengah di anggap memiliki posisi strategis dalam pemikiran politik luar negri Amerika karena peranan minyak dan gas alam menjadi kian penting bagi kelangsungan industri dan ekonomi barat sejak perang dunia II. Keuntungan yang di peroleh perusahan-perusahan Amerika dalam eksploitasi minyak di Timur Tengah sampai sekarang merupakan suatu factor yang menstabilisir ekonomi Amerika. Lima perusahaan minyak raksasa dari Amerika (Exxon Mobil, Texaco, Socal dan Gulf) sejak sebelum perang dunia II telah menguasai sejak dari produksi sampai pemasaran minyak Timur Tengah, walaupun akhir-akhir ini peranan mereka agak menurun akibat nasionalisasi parsial yang dilakukan oleh Negara-negara Arab produsen minyak. Kelima perusahan minyak Amerika ini bersama dengan British Petroleum dan Royal Dutch Shell sering dinamakan Seven Sisters yang ikut menentukan suasana perdagangan minyak internasional. Tujuh perusahan minyak internasional diatas sampai beberapa tahun yang lalu diatas masih menguasai 80% produksi minyak di luar Amerika Utara dan blok Soviet. Mereka juga menguasai 70% kapasitas penyulingan dan 50% armada tanker di kawasan Timur Tengah.
Alasan lain mengapa Timur Tengah menjadi sangat penting bagi Amerika adalah kenyataan bahwa sekutu-sekutu Amerika juga sangat tergantung pada minyak Timur Tengah. Pada pertengahan 1970-an Inggris memperoleh 50% suplay minyaknya dari dunia Arab, sedangkan ekonomi Jepang sepenuhnya beragantung pada minyak arab. 80% impor minyak oleh Negara-negara pasaran bersama Eropa juga berasal dari dunia Arab. Di perkirakan sampai 10 tahun mendatang kedudukan Arab tetap di segani oleh sekutu-sekutu Amerika karena minyak yang dimilikinya. Sementara itu sumber minyak di Alaska Mexico dan Laut Utara sama stidak dapat menyaingi produksi minyak Timur Tengah.
Pada tahap tertentu minyak memang dapat digunakan sebagai senjata pada saat dan kondisi yang tepat. Komitmen Amerika pada Israel sering terganggu akibat kebutuhan Amerika pada minyak Timur Tengah, khususnya dari Saudi Arabia. Kerja sama Saudi Amerika yang berlangsung selama 40 tahun dalam bidang ekonomi dan militer tidak dapat begitu saja diabaikan oleh kedua belah pihak yang saling membutuhkan.
Sampai menjelang revolusi Iran 1979, Amerika mengambil peranan sebagai penjamin mengalirnya minyak Timur Tengah ke Amerika sendiri, Negara-negara Eropa Barat dan Jepang. Khusus untuk kawasan Teluk, Iran berperan sebagai penjaga keamanan dan stabilitas Teluk, dengan bantuan Amerika. Dengan pecahnya revolusi Khomeini, salah satu pilar yang menyangga kepentingan nasional Amerika Tengah hilang dengan sendirinya dan Amerika di hadapkan dengan beberapa pilihan untuk “mengamankan” aliran minyak dari teluk ke dunia Barat dan Jepang.
c. Lobi Israel
Setiap analisa tentang mekanisme peranan dan politik Amerika di Timur Tengah kurang lengkap kiranya jika tidak membahas, walaupun secara sepintas, Lobi Israel di Washington. Sekitar 6,5 juta warga negara Amerika keturunan Yahudi rata-rata aktif dalam kegiatan politik dan mereka menaruh perhatian yang besar terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah. Memang tidak seluruh Yahudi Amerika membela politik ekspansionis Israel, akan tetapi sebagian besar jelas telah di pengaruhi oleh propaganda Zionis dan sedikit banyak cenderung untuk bersikap anti-Arab. Berbagai organisasi Zionis mengambil keuntungan dari kenyataan ini dan mereka terus berusaha mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik Amerika di Timur Tengah. Kedutaan Besar Israel barangkali merupakan semacam markas besar berbagai organisasi Zionis dan ada hubungan timbal balik antara Israel dengan kaum Zionis Amerika.
Masuknya armada Keenam Amerika Serikat ke laut tengah berkaitan erat dengan usaha Amerika untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah vis-à-vis Uni Soviet. Di antara tujuan Sixth Fleet di laut tengah adalah antara lain : memperkuat sayap selatan NATO; membawa berbagai kapal selam berpeluru kendali nuklir lebih dekat ke Soviet; menjamin terlindunginya kepentingan Amerika di Timur Tengah; dan menjadi sarana tekanan Amerika bagi Negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Menjauhkan pengaruh Soviet di Timur Tengah kemudian menjadi prioritas penting dalam politik Amerika. Atau dengan perumusan lain, kehadiran Soviet diTimur Tengah harus di cegah, setidak-tidaknya di minimalisir. Kehadiran Soviet dalam kaitan ini berarti kehadiran angkatan lautnya di laut tengah dan hubungan politik serta militer yang akrab antara Soviet dengan beberapa Negara Arab.
Sementara itu pada awal 1970-an mulai nampak bahwa akhirnya tercapai suatu perimbangan kekuatan baru yang secara kwalitatif menunjukan paritas antara kedua super power. Dengan adanya ekuilibrium militer dan strategi antara Amerika dan Soviet kedua Negara raksasa sampai pada kesimpulan bahwa semacam koeksistensi damai harus menjdi pola hubungan diantara mereka. Masing-masing Negara pada 1970-an menunjukan kesediaan untuk mengendalikan konflik-konflik mereka, termasuk di Timur Tengah agar konfrontasi nulkir dapat dielakkan.
Beberapa ahli politik Amerika menekankan bahwa konfrontasi terbatas dengan Soviet harus terus di jalankan selama tidak akan melampaui “critical threshold” yang dapat membawa konfrontasi total antara Amerika dan Uni Soviet.
Amerika pada khususnya dan barat pada umumnya menganggap kehadiran angkatan laut Soviet di samudra India sebagai penghalang terhadap usaha-usaha Amerika dalam mengatasi krisis yang terjadi di kawasan samudra India. Dalam kaitan ini krisis India-Pakistan 1971 sering disebut sebagai contoh keterbatasan kemampuan Amerika dalam membantu rezim Yahya Kahn mengatasi separasi Bangladesh dari Pakistan barat serta konfrontasi militer India-Pakistan.
b. Minyak
Timur Tengah di anggap memiliki posisi strategis dalam pemikiran politik luar negri Amerika karena peranan minyak dan gas alam menjadi kian penting bagi kelangsungan industri dan ekonomi barat sejak perang dunia II. Keuntungan yang di peroleh perusahan-perusahan Amerika dalam eksploitasi minyak di Timur Tengah sampai sekarang merupakan suatu factor yang menstabilisir ekonomi Amerika. Lima perusahaan minyak raksasa dari Amerika (Exxon Mobil, Texaco, Socal dan Gulf) sejak sebelum perang dunia II telah menguasai sejak dari produksi sampai pemasaran minyak Timur Tengah, walaupun akhir-akhir ini peranan mereka agak menurun akibat nasionalisasi parsial yang dilakukan oleh Negara-negara Arab produsen minyak. Kelima perusahan minyak Amerika ini bersama dengan British Petroleum dan Royal Dutch Shell sering dinamakan Seven Sisters yang ikut menentukan suasana perdagangan minyak internasional. Tujuh perusahan minyak internasional diatas sampai beberapa tahun yang lalu diatas masih menguasai 80% produksi minyak di luar Amerika Utara dan blok Soviet. Mereka juga menguasai 70% kapasitas penyulingan dan 50% armada tanker di kawasan Timur Tengah.
Alasan lain mengapa Timur Tengah menjadi sangat penting bagi Amerika adalah kenyataan bahwa sekutu-sekutu Amerika juga sangat tergantung pada minyak Timur Tengah. Pada pertengahan 1970-an Inggris memperoleh 50% suplay minyaknya dari dunia Arab, sedangkan ekonomi Jepang sepenuhnya beragantung pada minyak arab. 80% impor minyak oleh Negara-negara pasaran bersama Eropa juga berasal dari dunia Arab. Di perkirakan sampai 10 tahun mendatang kedudukan Arab tetap di segani oleh sekutu-sekutu Amerika karena minyak yang dimilikinya. Sementara itu sumber minyak di Alaska Mexico dan Laut Utara sama stidak dapat menyaingi produksi minyak Timur Tengah.
Pada tahap tertentu minyak memang dapat digunakan sebagai senjata pada saat dan kondisi yang tepat. Komitmen Amerika pada Israel sering terganggu akibat kebutuhan Amerika pada minyak Timur Tengah, khususnya dari Saudi Arabia. Kerja sama Saudi Amerika yang berlangsung selama 40 tahun dalam bidang ekonomi dan militer tidak dapat begitu saja diabaikan oleh kedua belah pihak yang saling membutuhkan.
Sampai menjelang revolusi Iran 1979, Amerika mengambil peranan sebagai penjamin mengalirnya minyak Timur Tengah ke Amerika sendiri, Negara-negara Eropa Barat dan Jepang. Khusus untuk kawasan Teluk, Iran berperan sebagai penjaga keamanan dan stabilitas Teluk, dengan bantuan Amerika. Dengan pecahnya revolusi Khomeini, salah satu pilar yang menyangga kepentingan nasional Amerika Tengah hilang dengan sendirinya dan Amerika di hadapkan dengan beberapa pilihan untuk “mengamankan” aliran minyak dari teluk ke dunia Barat dan Jepang.
c. Lobi Israel
Setiap analisa tentang mekanisme peranan dan politik Amerika di Timur Tengah kurang lengkap kiranya jika tidak membahas, walaupun secara sepintas, Lobi Israel di Washington. Sekitar 6,5 juta warga negara Amerika keturunan Yahudi rata-rata aktif dalam kegiatan politik dan mereka menaruh perhatian yang besar terhadap setiap perkembangan di Timur Tengah. Memang tidak seluruh Yahudi Amerika membela politik ekspansionis Israel, akan tetapi sebagian besar jelas telah di pengaruhi oleh propaganda Zionis dan sedikit banyak cenderung untuk bersikap anti-Arab. Berbagai organisasi Zionis mengambil keuntungan dari kenyataan ini dan mereka terus berusaha mempengaruhi proses pengambilan keputusan politik Amerika di Timur Tengah. Kedutaan Besar Israel barangkali merupakan semacam markas besar berbagai organisasi Zionis dan ada hubungan timbal balik antara Israel dengan kaum Zionis Amerika.
Posting Komentar